Punya Nilai Sejarah, Ini 4 Masjid Tuha yang Ada di Provinsi Aceh

Share:
loading...
Kolase Masjid | JAKWISATA

JAKWISATA.COM - Banyak destinasi wisata yang tersebar di berbagai daerah yang ada di Provinsi Aceh, baik itu wisata air, wisata laut, wisata gunung, wisata sejarah, kuliner maupun wisata Islami.

Sebagai daerah yang mengedepankan syariat Islam, sudah pasti setiap wilayah yang ada di Provinsi Aceh memiliki masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat tersebut. Seperti kita ketahui, provinsi ini memiliki masjid yang sudah menjadi landmarknya masyarakat Aceh yaitu Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh.

Kali ini, JAKWISATA akan mengajak anda untuk meilihat masjid tua yang ada di Bumi Serambi Mekkah ini. Berikut Masjid Tuha yang ada di Provinsi Aceh yang berhasil di Kunjungi JAKWISATA.

Masjid Tuha Indrapuri di Aceh Besar


Dulunya masjid Kuno Indrapuri adalah sebuah candi dari Kerajaan Hindu Lamuri sekitar abad ke-12 Masehi dan merupakan tempat pemujaan sebelum agama Islam masuk.
Masjid Tuha Indrapuri ini terletak di Desa Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Lokasi masjid tidak jauh dari jalan raya Banda Aceh-Medan, kurang lebih sekitar 150 meter memasuki persimpangan pasar Indrapuri.

Seluruh bangunan masjid berkontruksi kayu dengan beberapa ukiran tradisional bernuansa Arab. Menambah keindahan masjid tuha ini. Meskipun sudah lama, namun masjid ini masih terlihat kokoh.

Masjid Tuha ini memiliki tinggi bangunannya mencapai 11,65 meter. Memiliki 36 tiang penyangga berikut kuda-kuda penopang atap.


Selain berfungsi sebagai tempat beribadah, masjid ini juga dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan dan tempat musyawarah serta menetapkan raja pada zaman Kesultanan Aceh Darusalam.

Masjid Tuha Pulo Kambing di Aceh Selatan


 

Masjid ini merupakan yang tertua di Aceh Selatan. Di bangun pada tahun 1351 masehi. Pendirinya merupakan seorang ulama yaitu Syeikh Husein Al Fanjuri bin Muhammad Alfajeri Kausar yang berasal dari negeri Persia.

Masjid ini terdiri dari 4 tiang penyangga utama dengan ukiran kaligrafi di setiap tiangnya. Di dinding masjid ini juga terdapat lukisan asmaul Husna yang sangat indah.

Di salah satu tiang masjid, mengisahkan nama pendiri dan nama ulama beserta tukang pembuatan masjid tersebut dalam bahasa arab.

Masjid ini juga memiliki keunikan yaitu di salah satu tiangnya kerap mengeluarkan air dan oleh masyrakat telah membuatkan tempat penampungan.

Masjid Tuha Ulee Kareng di Banda Aceh



Masjid ini terletak di tengah padatnya penduduk. Masjid yang mempunyai banyak nilai sejarah ini dahulunya dibangun oleh Habib Abdur Rahman bin Habib Husen Al Mahdali yang dikenal dengan sebutan Habib Kuala Bak U.

Habib Kuala Bak U ini berasal dari Hadral Maut, Yaman. Dan berangkat ke Aceh pada tahun 1826.

Masjid ini masih berkontruksi kayu dan memiliki delapan tiang yang menjadi penopangnya ini terletak di Ulee Kreng tepatnya berada di depan sekolah MIN Ule Kareng.

Jika menuju dari simpang tujuh Ule Kareng hanya berjarak sekitar 100 meter. Pada masjid ini terdapat juga ukiran di kayu-kayu tersebut. Selain itu, di perkarang masjid tersebut juga terdapat beberapa kuburan para ulama.

Masjid Tuha Ulee Kareng masih digunakan dalam kegiatan keagamaan seperti, untuk pengajian anak-anak dan kajian-kajian Islami. Selain itu, banyak juga wisatawan yang berkunjung di masjid ini karena merupakan destinasi Islami yang ada di Kota Banda Aceh.


Masjid Tgk Chiek Kuta Karang di Aceh Besar



Masjid ini didirikan oleh Teungku Chik Kuta Karang sekitar tahun 1860, dan telah direnovasi pada tahun 1997. Kondisi masjid tidaklah sempurna seperti dulu. akan tetapi sejarahnya masih terasa sangat kental.

Masjid Tgk. Chik Kuta Karang terletak di Desa Ulee Susu Kemukiman Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar.

Tgk. Chik Kuta Karang merupakan seorang ulama yang lahir di Kabupaten Aceh besar,tepatnya di Kuta Karang. namun, tidak ada data pasti yang menuliskan kapan beliau dilahirkan.

Teungku Chik Kuta Karang berpulang ke rahmatullah pada bulan November tahun 1895. Beliau tidak sempat mengembangkan ilmunya lebih jauh sebagaimana yang dilakukan ulama lain setelah perang.

Sampai saat ini, masjid tersebut tidak lagi digunakan untuk tempat ibadah. akan tetapi sudah dibangun masjid yang berbahan berton di sampingnya. []



loading...

Tidak ada komentar